Kategori

Sosok Inspiratif

Chusniyati Kartini Mangrove Gunung Anyar

KIM Swaraguna 2017-03-24 Sosok Inspiratif KOTA SURABAYA

KIM Swaraguna - Surabaya. Habis Gelap, Terbitlah Terang…..itulah salah satu buku dari kartini yang akhirnya menjadi semboyan karena beliau berhasil memberikan secercah harapan hidup bagi kaum perempuan. Hal ini mungkin sama dengan keadaan pada tahun 1997 pada saat Chusniyati mulai mendiami Kawasan Mangrove Gunung Anyar Tambak. Beliau ingat betul bagaimana suasana pada waktu itu. “Kalau kemarau puanas banget, kalau pas hujan di sekeliling rumah pasti banjir” kata Chusniyati mengawali ceritanya.

Cemohan Warga Adalah Makanan Sehari-Hari

Kondisi Kawasan Mangrove Gunung Anyar tambak saat itu sangat memprihatinkan. Sungai belum terpasang plengsengan yang rapi seperti sekarang. Bahkan jalan setapak di depan rumahnya masih berupa kubangan lumpur yang setiap sore selalu tergenang air laut, jika mulai waktu pasang. Untuk membuat jalan yang lebih layak, wanita kelahiran 8 Februari 1974 ini setiap hari mengangkat tanah dari dasar sungai lalu ditaruh di depan rumahnya hingga tersambung ke jalanan umum. Butuh waktu dua hingga tiga tahun untuk “membuat” jalan tersebut. Sebutan orang gila dan kurang waras adalah hal biasa yang sering di dengarnya karena kegiatan mengambil tanah sungai ini.

Selesai membuat jalan, Chusniyati mulai melakukan penghijauan. Beberapa bibit pohon waru di belinya dari penjual tanaman dengan dana seadanya. Jadilah di sepanjang bantaran sungai di Kawasan Gunung Anyar Tambak ini memiliki pohon peneduh. Bahkan rumahnya pada saat itu banyak sekali tanaman-tanaman yang sangat jarang di miliki oleh tetangga di sekitarnya.

Koyo omahe wong perumahan ae (Seperti rumahnya orang-orang perumahan saja)” ujar para tetangganya yang melihat rimbunnya pekarangan dari ibu satu anak ini. Bahkan saking teduhnya banyak anak-anak di kampung tersebut yang sering bermain ke rumahnya hingga sore hari. Mananggapi cemohan tetangganya Chusniyati hanya tersenyum, bahkan dengan senang hati beliau malah memberikan bibit tanaman yang dia tanam ke tetangga sekitarnya.

Mengangkut Sampah

Selesai dengan masalah penghijauan, Chusniyati lalu di hadapkan dengan bau tidak sedap dari sungai yang ada di depan rumahnya. Bau ini berasal dari sampah yang mengendap di dasar sungai. Hal ini di perparah dengan banyaknya nelayan urban dari kota lain seperti Pasuruan yang banyak meninggalkan sampah di sekitar sungai tersebut.

Ambune iku loh mas sing garai wong kudu muntah (baunya itu lho mas, membuat orang mau muntah kalau menciumnya),” tutur wanita yang telah berhasil menggondol prestasi Kalpataru tingkat Kota Surabaya dan Provinsi Jawa Timur ini kepada Swaraguna dan Kabar Surabaya yang siang kemarin beruntung untuk menemuinya di kantor Bank Sampah Bintang Mangrove. Akhirnya, hampir setiap hari waktunya di habiskan untuk memunguti sampah, baik yang ada di jalan maupun di sungai depan rumahnya. Sebanyak 15 kg sampah berhasil di kumpulkannya dalam sehari. Sampah-sampah ini di bawa bersama suaminya dengan menggunakan gerobak. Rasa jijik dan was-was akan gigitan binatang sungai seperti ular dan nyambik (biawak) disingkirkannya jauh-jauh. Kemudian sampah yang berhasil di angkat ini di bakar agar baunya tidak menyengat. Semua kegiatan ini hanya berdua beliau lakukan bersama suaminya. Para tetangganya masih tidak mau ikut untuk membantunya.

Hanya cemohan dari tetangga yang kerap di dengarnya. Namun hal itu justru membuatnya semakin bersemangat untuk memungut sampah demi sampah. Berkat usahanya, penyakit demam berdarah yang seringkali menimpa warga di dekat Mangrove semakin berkurang bahkan menghilang.

Melihat lingkungannya yang semakin bersih dan bebas dari penyakit, akhirnya warga sekitar Mangrove juga mulai tergerak untuk ikut membantu Chusniyati untuk memunguti sampah di sekitar Mangrove. Para nelayan di sekitar tempat tinggalnya-pun juga senang dengan kondisi bersihnya Mangrove ini, karena mereka bisa berlayar dengan tenang tanpa takut baling-baling kapalnya tersangkut oleh sampah.

Menurut Chusniyati, sampah yang ada di aliran mangrove ini tidak akan bisa habis. Sampah ini datang ke wilayah mangrove dari tiga sumber, yaitu sampah dari Pusat Kota Surabaya dan Sidoarjo yang terbawa aliran sungai menuju ke laut. Kemudian sampah dari laut sendiri yang terbawa ke mangrove Gunung Anyar pada saat laut pasang. Untuk yang ketiga adalah sampah dari penduduk sekitar Mangrove. “Kalau jenis yang ketiga ini saya pastikan sudah enggak ada lagi” tegasnya.

BUMN PLN Mulai Terpikat

Melihat Chusniyati yang setiap hari memunguti sampah di sungai, akhirnya salah satu perusahaan BUMN, yaitu PLN tertarik untuk membantunya. Pihak PLN lalu rajin untuk memberikan Chusniyati pelatihan-pelatihan serta mengajaknya ke berbagai seminar tentang pengelolaan lingkungan hidup. Akhirnya pada tahun 2012, PLN memberikan sarana bagi Chusniyati untuk mendirikan bank Sampah yang kemudian di beri nama Bank Sampah Bintang Mangrove.

Saat ini nasabah dari Bank Sampah Bintang mangrove ini mencapai 300 orang. Sampah yang di kumpulkannya bisa menembus hingga 1 Ton per-harinya. Yang unik adalah, para nasabah bank Sampah Bintang mangrove ini bisa membayar tagihan listriknya dengan cara menyetor sampah ke Chusniyati.

Kegiatan dari Bank Sampah Bintang Mangrove ini telah mendapatkan banyak apresiasi dari masyarakat di luar Gunung Anyar, Luar Kota bahkan hingga ke manca negara. Tidak kurang dari dua kali perwakilan dari negara-negara di Asia yang berkunjung untuk melihat aktifitas dari sang Kartini Mangrove Gunung Anyar Tambak ini.

Ada sedikit cerita menarik di sini. Pada saat pertama Bank Sampah berdiri, banyak warga yang berebut menjadi pengurusnya. Hal ini di karenakan mereka melihat BUMN PLN sebagai inisiatornya. Dalam bayangan warga, gaji besar bisa di dapatkan dengan menjadi pengurus. Akhirnya setelah paham, bahwa Bank Sampah ini yang di titikberatkan adalah sisi sosialnya, maka satu-persatu mereka mulai mengundurkan diri. Sampai saat ini pengurus dari bank Sampah Bintang Mangrove kurang dari 10 orang.

Menggerakkan Nelayan Untuk Menjaring Sampah Di Sungai.

Untuk sampah yang ada di sepanjang aliran sungai ini, akhirnya Chusniyati berhasil untuk menggerakkan para nelayan untuk menjaring sampah sembari mereka kembali ke dermaga. Sampah-sampah ini akhirnya di setor ke Bank Sampah. Hal ini rupanya bisa menjadi penghasilan tambahan bagi para nelayan bila mereka tidak melaut akibat cuaca buruk. “ jadi selain mendapatkan ikan, para nelayan ini juga dapat uang tambahan” jelasnya.

Meskipun sudah berhasil menjadi penggerak warga dan mendapatkan beragam prestasi, Chusniati bukanlah sosok yang pelit ilmu. Beragam undangan pembicara kerap di terimanya. “Saya senang kalau apa yang saya lakukan bermanfaat bagi orang lain”tutur wanita lulusan SD ini. Terakhir ini beliau mendapatkan dana CSR dari PLN sebanyak 100 juta dan sebuah perahu yang bisa di gunakan untuk menggerakkan program wisata Hutan Mangrove Gunung Anyar Tambak ini.

Untuk menunjang kegiatan pariwisata di kawasan Mangrove Gunung Anyar, pihak PLN juga telah membantu kawasan mangrove Gunung Anyar ini dengan mendirikan dermaga perahu dan sebuah kantor bagi operasional Bank Sampah. Di harapkan selain pengelolaan sampah, Kegiatan pariwisata di kawasan ini bisa semakin maju dan berkembang.


(sumber: http://kabarsurabaya.org/chusniyati-kartini-mangrove-gunung-anyar/ )

0 Komentar

Tidak ada komentar terkait

Buat Komentar