Kategori

Kesehatan

Angka Kematian Ibu Turun Drastis

KIM SEKAR MUDA 2018-08-21 Kesehatan KABUPATEN BLITAR

Sekar Muda- Angka Kematian Ibu (AKI) di Kabupaten Blitar turun drastis. Dalam enam tahun terahir, AKI paling tinggi pada tahun 2014, yakni mencapai 23 kasus ibu meninggal akibat melahirkan. Pada tahun 2018 ini, per bulan Juli hanya tiga kasus kejadian ibu meninggal dunia akibat persalinan.

Akibat AKI terus menurun, Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar gencar melakukan berbagai upaya, di antaranya dengan drill. Drill ini dilakukan untuk memberikan pembekalan terhadap tenaga medis maupun kader kesehatan di desa-desa. Sehingga jika terjadi sesuatu pada ibu hamil bisa langsung ditangani.

“Sekarang ini kami sedang menggalakkan program kelas ibu hamil. Tujuannya agar ibu hamil mengetahui bagaimana proses kehamilan itu berlangsung. Para ibu hamil ini juga menjadi tahu, bagaimana menjaga kehamilan agar tetap sehat dan aman,” jelas Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, Miftakhul Huda, saat ditemui di kantornya

Jika ada kelainan pada kehamilan dapat teridentifikasi sejak dini. “Kalau memang resiko kehamilannya cukup tinggi, maka langsung dirujuk ke rumah sakit agar mendapat penanganan yang lebih intensif.” tambahnya.

Selain angka kematin ibu yang menurun, Angka Kematian Bayi (AKB) juga cenderung menurun. Dari data Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, AKB menurun dari tahun ke tahun. Pada tahun 2013, AKB mencapai 251 kasus bayi meninggal dunia. Sementara pada 2018 sampai bulan Juli, AKB pada bertahan pada angka 141 kasus bayi meninggal dunia.

Menurut Huda, yang mempengaruhi terjadinya AKI maupun AKB selama ini kebanyakan karena adanya faktor kelainan bawaan. Misalnya lemah jantung, terjadi kelahiran prematur, adanya keracunan pada kehamilan dan lain sebagainya.

“Kasus seperti ini biasanya terjadi karena tidak adanya penanganan sejak dini. Ibu hamil dalam memeriksakan kehamilannya tidak secara rutin, baik ke bidan desa, maupun ke puskesmas terdekat,” imbuh Huda.

Dia berharap bidan desa maupun kader kesehatan yang ada di desa-desa dapat lebih intensif dalam memberikan education ke masyarakat terkait pentingnya memeriksakan kehamilan sejak dini. Terlebih ibu yang hamil dengan resiko tinggi.

Dari keterangan Kabid Kesehatan Masyarakat ini, ibu hamil yang jarak kehamilannya sangat dekat merupakan ibu hamil dengan resiko tinggi, atau hamil terlalu muda, hamil terlalu tua, dan ibu hamil yang mempunyai penyakit deabetes melitus, juga termasuk kehamilan beresiko tinggi.

Pihak Dinas kesehatan sendiri tidak dapat mencegah kehamilan seseorang. “Karena hamil itu hak seseorang, kami hanya bisa memberikan pengertian, jika punya riwayat hamil resiko tinggi, alangkah baiknya untuk tidak hamil dulu atau ikut program Keluarga Berencana (KB-red),” imbuhnya.

0 Komentar

Tidak ada komentar terkait

Buat Komentar